Senin, 23 Desember 2013 20:24 wib
Ilustrasi. (Foto: Setkab)
“Pemilu hanya mendorong pertumbuhan ekonomi paling besar 0,2 persen,” jelas Kepala Divisi Asesmen Transmisi Moneter dan Sektor Keuangan Departeman Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Piter Abdullah, kepada wartawan di sela-sela acara Seminar Outlook Perekonomian Indonesia 2014 di Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Senin (23/12/2013).
Berdasarkan pengalaman Pemilu tahun 2004 dan 2009 lalu, kata Piter, perekonomian Indonesia tetap mampu tumbuh meski kecil. Karena itu, Pemilu 2014 diharapkan juga mampu memberikan dampak positif. Piter mengakui bahwa selama Pemilu perputaran uang memang akan menjadi besar.
Perputaran itu tidak akan mempengaruhi tingkat inflasi. Sehingga tahun 2014 mendatang, inflasi bisa diproyeksikan lebih baik dibanding tahun 2013. “Tahun 2013, kita mengalami shock karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan kebijakan membuka kran impor,” kata dia.
Pada tahun 2014 mendatang, kata Piter, memang diharapkan tidak akan ada lagi kenaikan harga BBM dan tidak ada lonjakan harga pangan sehingga pemerintah tidak akan membuka kran impor lagi. Secara umum, pertumbuhan perekonomian tahun 2014, akan membaik meski lamban. (wdi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar