Jumat, 01 November 2013

10. Diplomasi Ekonomi untuk Tingkatkan Ekspor


            Walaupun negara kaya minyak, namun negara Uni Emirat Arab ini tidak tergantung pada (UEA) minyak bumi dan gas. Kini, tinggal 30 persen perekonomian negara itu yang bergantung kepada minyak-gas, sedang 70 persen ekonomi dibangunan dari jasa dan transportasi.
            Demikian diungkapkan Duta Besar RI untuk UEA, Salman al Farisi ketika memberikan kuliah umum bagi  mahasiswa UII dan UGM di Auditorium Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII Yogyakarta, Senin (21/10). 
            Kuliah umum dengan tema 'The Future of Emerging  Markets: Brazil and The United Arab Emirates' juga menghadirkan Duta Besar RI untuk Brazil Sudaryomo Hartosudarmo. Kuliah dibuka Rektor UII Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc.
            Lebih lanjut Salman mengatakan negara UEA cukup aktif berinvestasi pengembangan energi di negara lain. Juga  membuat karya yang unik yang bisa membuat orang selalu ingin datang dan melihatnya, seperti hotel tertinggi, mal terbesar dan lainnya.
            "Terkait dengan Indonesia, perlu dikembangkan pemikiran diplomasi ekonomi yang tidak konsep tetapi target," kata Salman. Ia memandang penting diplomasi politik ditekankan sehingga ada target nyata. "Bisa saja  seorang Dubes bila bertugas diberi target untuk menghasilkan investasi ke Indonesia, jika tidak mencapai target dipersilakan mundur," tutur Salman. 
            Saat ini, tekstil masih menjadi andalan impor Indonesia ke UEA. "Bahkan seragam militer UEA itu dari Indonesia, produk Sritek Solo," ujarnya sambil menambahkan produk furniture Indonesia banyak ke sana. Meski memiliki SDA minyak dan gas yang luar biasa, UEA disebut Salman Al Farisi, sebagai negara yang pertama mengembangkan pusat listrik tenaga nuklir dan juga menggunakan pusat listrik tenaga matahari.
            Negeri itu juga mengembangkan energy di negeri lain dan terus melakukan penelitian sumber yang lain, mengingat kebutuhannya hampir mencapai kapasitas yang dimiliki. "Dengan demikian, tidak seperti Indonesia yang sampai sekarang masih suka byar-pet," tuturnya.

Analisa : Menurut saya indonesia harus banyak belajar seperti UEA, jangan hanya mengandalkan 1 sektor saja untuk meningkatkan perekonomiannya, tapi disetiap sektor nya semua dikembangkan.

9. Miss World dan APEC Dongkrak Kunjungan Wisatawan Asing

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat adanya peningkatan jumlah wisatawan mancanegara (wisman). Peningkatan tersebut didukung oleh banyaknya kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) berskala international bekalangan ini.

Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan selain Miss World 2013 yang diadakan di Bali pada September, sejumlah pertemuan yang diadakan di berbagai kota di seluruh Indonesia dalam kaitannya dengan APEC 2013 juga memberikan kontribusi terhadap kenaikan kunjungan wisman.

“Kami perkirakan bahwa tren pertumbuhan di kisaran 8,8% dapat dipertahankan untuk kuartal terakhir mengingat acara puncak APEC pada Oktober yang dihadiri oleh ribuan delegasi pemerintah, swasta dan media dari 21 ekonomi APEC," ujar Mari Elka, Jumat (1/11/2013).

Sementara itu untuk musim liburan di akhir tahun, Mari Elka yakin jumlah pengunjung meningkat tajam. Pasalnya Mari Elka melihat selain pergantian tahun, Kemenparekraf mempunyai promosi kerja yang bisa menggenjot wisatawan asing datang ke Indonesia.

"Untuk tiga bulan ke depan kami akan fokus mengintensifkan upaya promosi ke sejumlah negara, di antaranya berpartisipasi pada bursa pariwisata dunia World Travel Mart (WTM) di London dan roadshow ke beberapa kota penting di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) agar momentum pertumbuhan wisman dapat dipertahankan di tahun depan,” papar Mari.

Berdasarkan data BPS dan Pusat Data dan Informasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia September 2013 mencapai 770.878 wisman, naik 12,8 persen dibandingkan September 2012 yang jumlahnya 683.584 wisman.

Artinya, hingga September 2013, untuk ketiga kalinya jumlah kunjungan wisman bulanan melebihi 750 ribu. Sebelumnya, pada Juni dan Agustus jumlah wisman masing-masing mencapai 789.594 dan 771.009.

Secara kumulatif, antara Januari hingga September 2013 jumlah wisman telah mencapai jumlah 6.414.149 wisman atau tumbuh 8,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 5.895.288 wisman.

Dengan tren tersebut yang diharapkan berlanjut sampai akhir tahun, target pencapaian wisman tahun ini sebanyak 8,6 juta orang diperkirakan akan tercapai. (Adiatmaputra Fajar Pratama)
Sumber : Tribunnews.com
Editor : Bambang Priyo Jatmika
 
Analisa : pengadaan pagelaran miss world di indonesia yang tadinya banyak ditolak oleh banyak golongan masyarakat kini bisa kita lihat sendiri bahwa dari pagelaran tersebut juga banyak sisi positif nya yang mengutungkan bagi indonesia.

8. Pengusaha: Upah Tinggi, Buruh Bisa Diganti Mesin

JAKARTA, KOMPAS.com -  Pengusaha mulai mencari langkah antisipasi untuk menghadapi  permintaan upah buruh yang terus naik. Salah satunya dengan mempersiapkan mesin sebagai pengganti buruh. Langkah ini dinilai akan menekan biaya operasional perusahaan.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Franky Sibarani mengatakan, jika upah buruh terus naik bukan tidak mungkin tenaga kerja di sektor industri makanan dan minuman bakal dikurangi dan menggantinya dengan mesin.

"Tentu lebih murah menggunakan mesin, sebagian besar perusahaan makanan dan minuman lebih banyak mencoba investasi untuk mesin," ujar Franky kepada tribunnews.com, Kamis (31/10/2013).
Franky menjelaskan, jika memakai tenaga mesin tentu akan mempermudah proses produksi makanan. "Tenaga mesin lebih enak, tinggal pencet tombol kanan kiri, monitoring juga mudah," ungkap Franky.
Franky menambahkan, awalnya pengusaha makanan minuman investasi mesin untuk produksi karena kenaikan upah buruh pada 2012 di semua provinsi. "Pengusaha Investasi mesin karena didorong oleh upah buruh naik pada 2012 dan awal 2013," jelas Franky.

Analisis : keputusan ini bisa saja diambil oleh para pengusaha akiba dari tuntutan upah yang terlalu tinggi dari para buruh. jadi ada baiknya pemerintah mengambil keputusan yang sama sama menguntungkan bagi buruh dan pengusaha.

7. Pertumbuhan Ekonomi RI Diklaim Salah Satu Tertinggi di Dunia

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 sebesar 6 persen adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengakui target pertumbuhan ini cukup tinggi bila melihat nilai PDB nominal sampai akhir 2013 diproyeksikan di atas 900 miliar dollar AS.
"Meskipun target pertumbuhan ekonomi tidak setinggi periode sebelumnya, namun target 6 persen pada 2014, menempatkan Indonesia sebagai negara emerging-countries dengan pertumbuhan tertinggi di dunia setelah China," kata Firmanzah seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet di Jakarta, Minggu (27/10/2013).
            Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi penting untuk mendorong daya tahan ekonomi. Selain itu, anggaran belanja dialokasikan pada sektor-sektor produktif dan memberi efek pengganda tinggi pada peningkatan daya beli masyarakat, penyerapan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan. 
            Ia menegaskan, APBN merupakan alat negara untuk mencapai target-target pembangunan, utamanya peningkatan kesejahteraan. APBN 2014 dirancang untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global dengan tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian. Menurut Firmanzah, pertumbuhan ekonomi pada 2014 akan dikontribusikan oleh sejumlah sektor seperti industri pengolahan, sektor jasa perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, jasa keuangan, konstruksi, dan sektor pertanian-peternakan-kehutanan dan perikanan. 
“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi nasional 2014 lebih didorong konsumsi domestik antara lain konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah,” ungkapnya.
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/10/27/1545069/Pertumbuhan.Ekonomi.RI.Diklaim.Salah.Satu.Tertinggi.di.Dunia

Analisis  : Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi (http://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_ekonomi).  Dalam artikel yang saya ambil dari Harian Kompas ( Minggu, 27 Oktober 2013), mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 sebesar 6 persen adalah salah satu yang tertinggi didunia. Hal itu disebutkan oleh Staff Bidang Ahli Presiden Pembangunan dan Ekonomi, Firmanzah. Menurut Firmanzah, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi nasional 2014 didorong konsumsi domestik antara lain, konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah. Nilai PDB nominal sampai akhir 2013 diproyeksikan di atas 900 miliar dollar AS.

6. Masalah Ekonomi di Indonesia

Masalah Ekonomi di Indonesia - Siapa sih yang tidak tahu bahwa negara kita, Indonesia ini adalah termasuk negara yang kaya? Terutama kaya akan sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh negara lain. Tapi sayangnya pemanfaatan sumber daya alam Indonesia belum maksimal. Parahnya lagi adalah orang asing yang berhasil mengeruk kekayaan alam kita. Itu baru satu contoh permasalahan ekonomi Indonesia yang muncul kepermukaan. Tidak hanya itu, masih ada beberapa permasalahan lagi yang membuat ekonomi Indonesia agak lambat untuk berkembang.
1. Tingginya Jumlah Pengangguran. 
Dari tahun ke tahun, masalah jumlah pengangguran di Indonesia kian bertambah. Belum ada solusi yang jitu untuk mengatasi tingginya angka pengangguran sampai saat ini. Pengadaan lapangan kerja saja dirasa tidak cukup untuk menekan angka pengangguran di negara kita.

2. Tingginya Biaya Produksi 
Sudah menjadi rahasia umum di dunia industri di negara kita ini bahwa selain biaya produksi cukup tinggi belum lagi ditambah dengan biaya-biaya yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan. Namun karena faktor keamanan di negara kita masih sangat minim dan ketidakmampuan pemerintah untuk mendukung dan melindungi sektor industri, akibatnya terdapat banyak pungutan-pungutan liar yang bahkan akhir-akhir ini dilakukan dengan terang-terangan.

Hal ini yang juga akhirnya menjadikan biaya produksi semakin meningkat. Parahnya lagi, belum ada solusi pasti untuk masalah  ini. Bahkan beberapa industri yang dinilai cukup bagus akhirnya bangkrut dan lebih memilih untuk beralih menjadi importir yang hanya cukup menyediakan gudang dan beberapa pekerja saja dibanding dengan mendirikan sebuah industri baru. Ini harus menjadi perhatian khusus pemerintah untuk mengatasi masalah ini dan masalah ekonomi di indonesia lainnya.

Masalah Ekonomi di Indonesia Lainnya :

3. Keputusan Pemerintah Yang Kurang Tepat
Kita semua tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini sangat marak sekali peredaran barang-barang dari China di negara kita, bukan? Nah, penyebabnya adalah keputusan pemerintah dalam hal regulasi ekonomi yang dirasa kurang tepat jika dilihat dari kondisi perekomomian Indonesia.

Di saat itu pemerintah memutuskan untuk bergabung dalam ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA). Akhirnya terjadilah seperti yang kita rasakan sekarang ini. Produk lokal nyaris kalah dengan produk yang berasal dari China.

4. Bahan Kebutuhan Pokok Masih Langka 
Langkanya bahan kebutuhan pokok adalah salah satu masalah serius yang menimpa kondisi ekonomi indonesia. Masalah ini akan sangat terasa sekali di saat menjelang perayaan hari-hari besar seperti hari raya idul fitri, natal, dan hari-hari besar lainnya.

Meskipun pemerintah terkadang melakukan razia pasar untuk terjun langsung melihat penyebab langkanya bahan kebutuhan pokok, namun tindakan ini dirasa masih jauh dari menyelesaikan masalah langkanya kebutuhan pokok itu sendiri.

5. Suku Buka Perbankan Terlalu Tinggi 
Perlu anda ketahui bahwa salah satu indikator untuk menentukan baik atau tidaknya kondisi perekonomian di suatu negara adalah suku bunga. Semakin tinggi atau semakin rendahnya suku bunga perbankan di suatu negara, maka akan berpengaruh besar terhadap kondisi ekonomi di negara tersebut. Nah, untuk suku bunga perbankan di Indonesia masih dinilai terlalu tinggi sehingga masih perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

6. Nilai Inflasi Semakin Tinggi 
Selain suku bunga perbankan, satu hal lagi yang juga mempengaruhi kondisi ekonomi di suatu negara adalah nilai inflasi. Di Indonesia, nilai inflasi dinilai nyaris cukup sensitif. Bahkan hanya gara-gara harga sembako dipasaran tinggi, maka nilai inflasi juga terpengaruh. Akibat dari tingginya nilai inflasi di negara kita ini, maka akan bermunculan masalah-masalah ekonomi Indonesia yang lain.


ANALISA:
Penghasilan yang rendah, harga pokok yang melonjak, anjloknya nilai mata uang, atau runtuhnya bursa saham, merupakan permasalahan ekonomi yang seringkali muncul.
Dengan semakin meleknya masyaratakat tentang keuangan dan perekonomian, diharapkan bahwa masalah-masalah ekonomi baik yang makro maupun yang mikro, bisa diatasi dengan segera. Kalau permasalahan ini hanya ditangani oleh aparat pemerintah dan orang-orang tertentu saja, maka yang cerdas hanya orang-orang tertentu. Bila keadaan ini berlangsung terus-menerus, maka kapan masyarakat akan maju dan mampu berdiri sendiri..

http://www.anneahira.com/masalah-perekonomian-di-indonesia.htm

5. 3 Dampak Keberadaan Bank Syariah Bagi Makro Ekonomi

Liputan6.com, Jakarta : Belakangan ini Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki wacana pendirian Bank BUMN syariah. Apa sebenarnya dampak makro yang terjadi dari pengoperasian perbankan syariah selama ini sehingga kembali memunculkan wacana tersebut?.
Pengamat perbankan syariah, Karnaen A Perwataatmadja, mengungkapkan ada tiga dampak makro yang terjadi dari beroperasinya perbankan syariah.
"Dampaknya adalah terhadap stabilitas, dampak terhadap pertumbuhan dan dampak terhadap pemerataan," jelas dia dalam materi tertulisnya, Rabu (15/5/2013).
Pertama, dampak terhadap stabilitas ekonomi adalah transaksi perbankan syariah berdasarkan pada hukum Islam. Pada transaksi ini menggunakan sistem ketersediaan barang terlebih dahulu sebelum perbankan mengeluarkan uang.
Dari sistem ini apabila seluruh sektor perbankan adalah bank syariah jumlah barang akan selalu diimbangi dengan jumlah uang.
"Keseimbangan ini akan memberikan dampak makro berupa stabilitas ekonomi. Oleh karena itu pangsa pasar bank syariah harus diusahakan terus tumbuh sehingga besarnya sudah cukup signifikan, katakanlah minimal 20% maka dampaknya terhadap stabilitas ekonomi akan mulai terasa," imbuh Karnaen.
Kedua, dampak terhadap pertumbuhan merupakan dampak selanjutnya yang dipaparkan Karnaen. Stabilitas yang dibangun perbankan syariah apabila pangsa pasarnya sudah cukup signifikan besarnya tidak meredam kenaikan harga bila terjadi kelangkaan barang.
"Kenaikan harga ini akan mendorong produsen untuk meningkatkan produksi dengan menambah mesin, pembelian bahan baku, dan tenaga kerja sehingga menambah pendapatan masyarakat. Peningkatan pendapatan hakekatnya adalah pertumbuhan ekonomi," tutur dia.
Ketiga, dampak pengoperasian perbankan syariah terhadap pemerataan. Perbankan syariah saat ini beroperasi dengan menggunakan sistem bagi hasil.
"Sistem bagi hasil yang adil dan baik di sisi pendanaan maupun di sisi pembiayaan akan membawa dampak pemerataan," terang Karnaen.
Dia menambahkan dengan falsafah dasar yang diusung perbankan syariah berupa Natural Uncertain Contract maka sistem bagi hasil akan menerapkan prinsip hasil sedikit maupun hasil besar akan dibagi secara adil.
"Dengan demikian merupakan bentuk efisiensi perbankan syariah, dan kunci keberhasilannya adalah rendahnya Non Performing Financing," tegas dia. (Yas/Nur)
Sumber                        :
Analisis                       :
Adanya dampak positif dengan keberadaan bank syariah baiknya dipertahankan, dan memperbanyak produk produk yang dikeluarkan oelh bank syariah itu sendiri.

4. Cadangan Devisa Naik, Rupiah Tertolong


Tidak hanya penguatan Indeks Harga Saham Gabungan yang diprediksi menguat hari ini, namun kenaikan cadangan devisa dinilai dapat membantu penguatan rupiah."Meski tipis," kata Analis Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Selasa, 10 September 2013.

Cadangan devisa hingga akhir Agustus 2013 tercatat US$ 93 miliar, relatif stabil dari posisi akhir Juli 2013 sebesar US$ 92,7 miliar. Nilai tersebut setara 5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Jika hanya dibandingkan dengan impor, posisinya setara dengan 5,2 bulan impor.

Bank Indonesia menilai jumlah itu cukup menghadapi tekanan neraca pembayaran. Namun, tingginya tekanan dan ketidakpastian perekonomian global ke depan memerlukan langkah antisipasi baik dengan penguatan respons kebijakan maupun ketahanan menghadapi gejolak eksternal, termasuk bantalan kecukupan cadangan devisa secara berlapis.

Hari ini rupiah diperkirakan akan bergerak pada rentang Rp 11.180-Rp 11.195 dengan kurs tengah Bank Indonesia. Sepanjang pekan lalu, nilai tukar rupiah melemah 276 poin atau 2,52 persen ke posisi 11.200 per dolar Amerika Serikat, atau anjlok dibandingkan pekan sebelumnya, 10.924 per dolar Amerika.

Reza melanjutkan, laju rupiah juga juga akan kembali menguat seiring dengan imbas positif pada laju mayoritas mata uang regional. "Rupiah juga akan terbantu dengan menguatnya dolar Australia pasca kemenangan Perdana Menteri Tonny Abbott di pemilihan pemerintahan," ujarnya.

Sentimen positif juga datang dari kenaikan yuan setelah neraca perdagangannya menunjukkan peningkatan. "Begitupun dengan rilis inflasi China yang cukup stabil dan data kenaikan neraca perdagangan yang membuat ekonomi Cina diprediksi meningkat," ucapnya.

Analisis      :
Menurut saya, kenaikan cadangan devisa dinilai dapat membantu penguatan rupiah dan posisi ini relative stabil sehingga dapat membuat keadaan perekoniman Indonesia membaik dan semakin stabil.
 Sumber                                :  http://www.tempo.co/read/news/2013/09/10/087511880/Cadangan-Devisa-Naik-Rupiah-Tertolong

3. BCA Naikkan Bunga Deposito Bulan Depan


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berencana akan menaikkan suku bunga deposito di bulan depan, dan diharapkan bisa meningkatkan perolehan dana pihak ketiga.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, saat ini perbankan memang sedang berlomba-lomba meningkatkan perolehan dana pihak ketiga, termasuk perolehan deposito. "Saat ini, bunga deposito kita masih 6,25 persen. Tanggal 1 November nanti kita naikkan jadi 7 persen," kata Jahja saat konferensi pers di Hotel Kempinski Jakarta, Rabu (30/10/2013).

Ia menambahkan, perbankan lain memang sedang agresif memburu nasabah kaya dan demi meningkatkan dana mahalnya. Bahkan perbankan lain justru berlomba-lomba menaikkan bunga depositonya hingga 8,5-10 persen.

Namun dengan hanya menaikkan bunga deposito menjadi 7 persen, Jahja menjelaskan bahwa pihaknya tidak ingin ada ketimpangan dalam memperoleh dana dan menyalurkan dana tersebut. Sebab, perkiraannya, kredit di tahun depan bakal hanya tumbuh 14-15 persen. Sementara target kenaikan perolehan dana pihak ketiga (DPK) di tahun depan hanya 12-13 persen.

"Itupun sudah cukup memadai. Sebab kalau mau menaikkan bunga deposito, maka DPK memang akan tinggi. Tapi nanti hasilnya akan negatif (karena penyaluran kredit juga tidak tinggi), maka hal itu tidak kita kehendaki," tambahnya.

Sekadar catatan, dana pihak ketiga BCA hingga kuartal III-2013 mengalami kenaikan sebesar 11,9 persen menjadi Rp 400,4 triliun. Rinciannya, tabungan naik 10,1 persen menjadi Rp 218,3 triliun, giro naik 20,6 persen menjadi Rp 103,8 triliun dan deposito naik 6,6 persen menjadi Rp 78,2 triliun.

Analisis : untuk menghindari inflassi maka tidak ada salahnya jika banyak bank menaikkan bunga deposito nya. selain untuk mengurangi banyaknya uang yang beredar dan mencegahnya kenaikan harga. naiknya bunga deposito juga bisa menambah rasa percaya masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank.

2. BI: Pemilu 2014 Dorong Ekonomi Indonesia

  • Penulis : Kontributor Bengkulu, Firmansyah
  • Jumat, 1 November 2013 | 11:15 WIB
BENGKULU, KOMPAs.com - Di tengah krisis global,  Pemilu 2014 bisa menjadi mesin bagi pertumbuhan perekonomian nasional hingga menyentuh 6,5 persen. Demikian disampaikan Kepala Divisi Asesmen Transmisi Moneter dan sektor Keuangan Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter, Bank Indonesia, Piter Abdullah di Bengkulu, Kamis (31/10/2013).

"Pengalaman kita dari pemilu sebelumnya itu ada dampak dampak yang cukup signifikan dari konsumsi pemilu bagi pertumbuhan ekonomi nasional, selain itu kita berharap perbaikan ekonomi global cepat terjadi sehingga itu akan berimbas positif juga bagi perbaikan ekonomi nasional," katanya.

Dia mengatakan, perbaikan ekonomi nasional yang didorong kegiatan pemilu antara lain dari belanja partai dan kegiatan para calon legislatif.

Secara umum menurut dia, hambatan ekonomi nasional pada 2014 berada pada hambatan eksternal yakni ancaman krisis ekonomi global yang memicu perekonomian nasional. Sementara dari sisi internal, imbas krisis global pada kondisi defisit neraca pembayaran.  Dua hal itu yang menjadi sorotan utama BI.

Ia mengatakan, perlambatan ekonomi pada tahun ini dari 6,5 persen menjadi 5,9 persen karena imbas pertumbuhan ekonomi global yang melambat.  Pada 2014 pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan melaju pesat dengan mulai membaiknya secara perlahan perekonomian di Amerika dan Eropa. "Kalaupun itu tidak terjadi kita masih bisa berharap dari aktifitas Pemilu," tambahnya.

Analisis : ini menjadi berita baik bagi perekonomian indonesia, pemilu yang biasanya identik dengan banyak menghamburkan uang negara justru sebaliknya malah mendorong perekonomian nasional. oloeh sebab itu ada baiknya kita juga mendukung pemilu tahun 2014 nanti.